Indo 24

Kapolda Banten Imbau Masyarakat Jangan Terprovokasi

Brigjen Pol Teddy Minahasa (DETIK)

Serang, 26/10 (Asatunews.co.id) — Kapolda Banten Brigjen Pol Teddy Minahasa mengimbau masyarakat jangan terprovokasi oleh kegaduhan yang timbul pasca pembakaran bendera berkalimat Tauhid, pada acara Hari Santri Nasional di Garut.

“Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan kepolisian, bendera yang dibakar anggota Banser pada 22 Oktober itu bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),” kata Teddy saat mengunjungi kiai dan ulama sepuh Banten di Kesultanan Banten Lama, Jumat (26/10/2018).

Bahkan, tegasnya lagi, “Wallahi, Demi Allah bahwa itu adalah bendera HTI. Saya tegas bahwa yang dibakar di Garut itu bukan bendera Tauhid. Itu bisa dipastikan dari pemeriksaan, saksi, pelaku yang mengibarkan bahwa itu adalah bendera HTI.”

Di kediaman Kiai Tubagus Ahmad Syadzili Wasi, di Kasemen, Kota Serang, Teddy memaparkan HTI merupakan organisasi yang dilarang di Indonesia, berdasarkan UU NO 16 tahun 2017. Bukan hanya menurut kepolisian, ulama pun menurutnya menganggap HTI berbahaya bagi persatuan bangsa. Karenanya, jangan sampai akibat peristiwa tersebut bergejolak sehingga mengancam persatuan umat.

Ia melihat, ada sinyalemen yang digelorakan dalam perang opini akibat peristiwa di Garut adalah untuk menyulut umat. Ini dibuktikan dengan banyaknya reaksi yang muncul akibat peristiwa tersebut.

“Ada pihak-pihak yang menggulirkan bahwa yang dibakar adalah bendera Tauhid, ini bahaya, ini bisa memicu kemarahan umat muslim bahkan sedunia. Dan faktanya adalah bendera HTI,” ujaR Teddy. Ia mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi ataupun terpecah belah.

Menanggapi hal itu, para ulama se-Banten melakukan aksi damai tolak provokasi pembakaran bendera HTI di depan Masjid Agung Banten pada Jumat. Mereka menyepakati bendera yang dibakar di Garut adalah bendera milik HTI.

Para ulama berdeklarasi dan berjanji tak terprovokasi akibat peristiwa tersebut. Ulama yang hadir dalam deklarasi itu antara lain Ketua MUI Banten AM Romli, Kiai Matin Syarqawi, Kiai kharismatik Abuya Muhtadi, tokoh pendiri sekaligus ulama Banten Embay Mulya Syarief, dan para pengurus MUI kabupaten/kota.

Para ulama tersebut menyepakati tiga hal. Pertama, bendera yang dibakar di Garut milik HTI, yang keberadaannya sudah dilarang di Indonesia. Kedua, para ulama di Banten mengajak sesama Umat Islam menahan diri dan tidak terprovokasi peristiwa tersebut. Ketiga, para ulama di Banten juga mengajak semua orang berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ulama meminta warga berkomitmen pada situasi yang aman dan kondusif.

Seusai deklarasi, AM Romli mengatakan ia tidak meragukan bendera yang dibakar di Garut milik HTI. Ia mengimbau masyarakat tidak terpancing usaha mengadu domba Umat Islam. “Kita harus jaga NKRI sebagai warisan ulama. Setiap usaha yang akan melenyapkan NKRI pasti kiai santri tampil lagi,” imbau AM Romli. [RN]

104 total views, 6 views today

Popular

To Top