13
Min, Jun
266 New Articles

Indonesia Berkomitmen Atasi Perubahan Iklim

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong

Indonesia 24 Jam
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta 6/6---  Hari Lingkungan Hidup menjadi kesempatan untuk merefleksikan pencapaian dan terus melanjutkan tekad mengatasi tantangan lingkungan hidup yang dihadapi dunia saat ini, yakni perubahan iklim.  Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan, pemerintah saat ini sangat berkomitmen dalam mengatasi perubahan iklim.  Indonesia bersama-sama dengan anggota masyarakat internasional melalui Konferensi Para Pihak dalam Konferensi Perubahan Iklim (COP) UNFCCC ke-21 di Paris, telah mengadopsi Paris Agreement to the UNFCCC yang salah satunya menghasilkan kesepakatan mengenai Nationally Determined Contribution (NDC) yang mengatur dan memproyeksikan potensi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

Tindak lanjut komitmen Presiden Joko Widodo pada COP-21 adalah meratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2016.

“Dalam dokumen NDC, Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan business as usual (BAU), dan sampai 41% dengan bantuan internasional pada 2030. Angka 29% berarti ekuivalen dengan 826 juta ton CO2 dan 41% ekuivalen dengan lebih dari 1,02 miliar ton CO2 yang diturunkan sampai tahun 2030,” kata Alue ketika membuka Indonesia Climate Change Virtual Expo & Forum 2021 ysng mengangkat tema Integrasi Atmosfer untuk Lingkungan Berkelanjutaan dan Kesejahteraan Bangsa, Sabtu (5/6/2021).

Ia juga menyampaikan pandangan Indonesia atas beberapa agenda negosiasi COP-26 UNFCCC yang akan berlangsung di Glasgow 1-12 November mendatang. Agenda itu antara lain terkait penyelesaian Paris Rules Book,  Common Time Frame (CTF) untuk NDC, isu transparancy, dan mengenai sources of input untuk GLobal Stocktake (GST). Selain itu juga terkait harapannya terhadap soft diplomacy pavilion Indonesia COP-26 UNFCCC Glasgow.

“Soft diplomacy di Paviliun Indonesia diharapkan tidak hanya diupayakan melalui sesi-sesi diskusi atau pertemuan, tetapi juga dapat dilakukan melalui pengenalan seni, budaya, dan keramahan bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia,” ujarnya .

Sementata itu, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim LHK Laksmi Dhewanti mengatakan, fokus dalam substansi negosiasi menuju COP-26 adalah agar implementasi Paris Agreement dapat berjalan secara penuh atau penyelesaian Paris Rules Book.  Agenda utama COP-26 yaitu negosiasi politis para negara pihak terkait isu-isu substansi yang diselenggarakan sejak 31 Mei  hingga 17 Juni mendatang.

“Untuk Indonesia, negosiasi COP ini bukan hanya retorika. Ini benar-benar menjadi ajang bagi kita untuk menguatkan komitmen dan menguatkan langkah kolaborasi,” kata Laksmi. *