13
Min, Jun
266 New Articles

2021-2030 Periode Terpenting Cegah Bencana akibat Perubahan Iklim

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya

Indonesia 24 Jam
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta 6/6--   Dalam sepuluh tahun ke depan merupakan periode terpenting untuk mencegah bencana akibat perubahan iklim serta menjaga keanekaragaman hayati. Hal tersebut sesuai dengan deklarasi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa periode 2021-2030 sebagai Dekade PBB Restorasi Ekosistem (UN Decade on Ecosystem Restoration).  Dekade Restorasi Ekosistem juga untuk mencegah, menghentikan, dan membalikkan degradasi ekosistem di seluruh dunia. 

"Inilah momen kita. Kita tidak bisa mengembalikan waktu. Tapi kita bisa mengembalikan kondisi lingkungan melalui berbagai aktivitas positif dalam menjaga dan merawat lingkungan. Kita adalah generasi yang berdamai dengan alam," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya saat memberikan sambutan Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2021 secara virtual, Sabtu (5/6/2021).

Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia ke 47 bertema Restorasi Ekosistem itu dipusatkan di Pakistan. Menurut Menteri, peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini merupakan saatnya untuk melakukan penyesuaian berpikir dan bertindak.

Menteri LHK juga mengatakan, tema Restorasi Ekosistem juga sejalan dengan semangat dan langkah-langkah Indonesia dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan. Sejumlah langkah tersebut di antaranya restorasi dan rehabilitasi hutan dan kawasan guna mendukung upaya mengatasi krisis perubahan iklim. Kemudian, memastikan pengelolaan konservasi dan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

Pemerintah, lanjutnya, juga menempuh upaya dalam pemulihan ekonomi nasional melalui kegiatan padat karya, penanaman dan rehabilitasi mangrove, sera restorasi gambut. Restorasi hutan juga dilakukan guna mengatasi krisis lingkungan elemen udara, air dan tanah/tutupan lahan. 

Yang tidak kalah penting, ujar Menteri LHK, yaitu restorasi kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Secara praktis, restorasi ekosistem dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat sejak 2015 hingga saat kini. Restorasi dilakukan melalui pemulihan lahan dengan total area 4,69 juta hektare (ha),  termasuk lahan gambut dan mangrove.

Menurutnya, tujuan pemulihan adalah untuk mengembalikan ekosistem hutan yang terdegradasi menuju kondisi yang semaksimal mungkin mendekati keadaan semula, dalam hal komposisi dan kondisi biodiversitas.

Hal penting lainnya, ujarnya, restorasi ekosistem akan sangat membantu dan dibutuhkan dalam upaya menurunkan emisi gas ruang kaca (GRK) dan meningkatkan stok karbon. lndonesia sangat serius dalam upaya mengendalikan perubahan iklim melalui pengendalian laju deforestasi, penghentian konversi hutan primer dan gambut, penurunan kebakaran hutan dan lahan, rehabilitasi hutan dan mangrove, ekonomi sirkuler, serta pengembangan energi baru dan terbarukan.

Hal yang tidak kalah penting dalam restorasi ekosistem dan ketahanan iklim yang berkelanjutan, katamya, adalah kesadaran dan kepedulian bersama dari seluruh elemen masyarakat. Demikian pula kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi yang masif dan sistematis menjadi keniscayaan untuk dijalankan semua pihak.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2021, menurut Menteri LHK, menjadi momen penting untuk terus menggugah, menumbuhkan, serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian publik tentang ekosistem dan pengelolaannya secara optimal.

"Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup ini diharapkan dapat menambah semangat kita untuk senantiasa terus memperbaiki diri dalam berperilaku adil terhadap lingkungan," ujar Menteri Siti. *