17
Sen, Mei
302 New Articles

Gus Jazil: Larangan Mudik untuk Lindungi Bangsa

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid

Politik
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta 4/5 -- Kasus virus Corona (Covid-19) masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan dunia. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan jumlah kasus Covid-19 atau pasien positif corona hingga Senin (3/5) mencapai 1.682.004 orang dan penambahan kasus harian dalam 24 jam terakhir mencapai 4.730 orang. 

Dengan kondisi tersebut, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid meminta masyarakat tidak lengah dan terus memperketat disiplin  protokol kesehatan. Apalagi saat ini varian baru Covid-19 sudah masuk Indonesia, yakni virus B.1.1.7 asal Inggris, varian mutasi ganda B.1.617 asal India, dan B.1.351 yang berasal dari Afrika Selatan. 

Varian B.1.617 ditemukan pada dua kasus positif Covid-19 di Jakarta. Kemudian, varian B.1.351 ditemukan pada satu kasus di Bali. Selain itu, kita harus belajar dari kasus di India yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 secara signifikan. 

”Masyarakat harus punya kesadaran untuk disiplin karena Covid-19 masih menjadi musuh. Jangan takut, tapi juga jangan meremahkan,” kata Gus Jazil, sapaan akrab Jazilul Fawaid, dalam Diskusi 4 Pilar MPR bertajuk Antisipasi Klaster Baru Covid-19 Jelang Lebaran di Media Center DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (4/5/2021). 

Menurut Gus Jazil, kebijakan pemerintah yang melarang mudik Lebaran sebagai upaya mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19 harus didukung. Sebab, migrasi masyararakat secara besar-besaran berpotensi  terjadinya klaster baru Covid-19. 

Ia menegaskan, kebijakan larangan mudik sudah benar dalam konteks antisipasi. Namun, jangan sampai kebijakan tersebut juga menjadi gejolak dalam konteks penanganannya. ”Terkadang, namanya rindu, enggak pakai aturan. Namanya kangen, cinta, sudah enggak ada aturan. Nanti pasti ada yang melanggar karena saking rindu. Yang kayak begitu gimana cara pemaklumannya, bagaimana cara memberikan sanksinya, supaya terasa adil, karena Lebaran ada kaitannya dengan rasa rindu, dan mengatur rasa rindu itu memang sulit,” katanya.

Wakil Ketua Umum DPP PKB itu mengatakan, teori dalam Islam ada kaidah dar’ul mafasid muqoddamu ala jalbil masholih. Yakni menolak keburukan harus didahulukan daripada mengambil manfaat atau kemaslahatan. ”Jadi kemaslahatan mudik itu dinomorduakan. Yang dinomorsatukan adalah mencegah terjadinya wabah klaster dan makin banyaknya orang yang terkena Covid-19,  apalagi meninggal. Kita tolak dulu apa yang mendatangkan keburukan, baru kita berpikir mencari maslahat. Jadi ya rindunys ditahan dulu daripada celaka,” paparnya. 

Menurutnya, hal ini juga sejalan dengan semangat konstitusi bahwa negara harus melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Selain itu juga sejalan dengan kerangka Pancasila. ”Jadi protokol kesehatan itu adalah upaya pelindungan,” tuturnya.

Namun disisi lain, Gus Jazil juga mengaku prihatin karena bagi sebagian masyarakat, seperti para pedagang, Lebaran seharusnya menjadi kesempatan untuk menjalankan roda perekonomian. ”Sekarang tidak ada lagi. Bahkan kami yang di DPR kesuliran melakukan open house, pertemuan relawan. Padahal aktivitas inilah yang akan menggerakkan roda ekonomi. Covid-19 ini pertama menghantam sektor kesehatan yang kedua sektor ekonomi,” katanya. 

Karena itu, Gus Jazil meminta pemerintah juga mencari solusi ata kebijakan yang dibuat. Misalnya, larangan mudik yang secara ekonomi berdampak bagi para sopir, pedagang dan lainnya, harus dicarikan solusi agar roda perekonomian mereka tetap bisa berputar. ”Bagaimana pemerintah mencari cara misalnya untuk orang-orang yang tidak punya kemampuan berdagang secara online agar produknya tetap terjual. Ini menjadi soal dan harus dicarikan solusinya,” tuturnya. ***