12
Sab, Jun
266 New Articles

KBRI Tokyo dan PPI Toyohashi-Nagoya Perluas Pendidikan WNI di Jepang

Pertemuan PPI Toyohashi dan Nagoya.

Asia
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Tokyo (2/6) -- Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Tokyo Yusli Wardiatno bersama Staf Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo Yuvi Shandy Amisadai mengadakan pertemuan dengan pengurus dan anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Toyohashi dan Nagoya. Pertemuan bertujuan untuk meningkatkan kerja sama KBRI Tokyo dengan PPI Toyohashi dan Nagoya pada bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Semoga dengan pertemuan yang hangat dan produktif ini kami selaku orang tua (KBRI Tokyo) di sini bisa terus bersilaturahmi dengan anak-anak kami (PPI), sehingga kita bisa berkolaborasi dan bekerja sama untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan Indonesia,” ujar Atdikbud Yusli, akhir pekan lalu.

Dalam pertemuan tersebut ia juga memaparkan informasi terkait keberadaan Sekolah Bhineka Nagoya. Sekolah ini merupakan sekolah informal yang mengajarkan tentang budaya dan Bahasa Indonesia kepada anak-anak Indonesia di sekitar Nagoya. “Pusat pendidikan ini dapat kita jadikan cikal bakal berdirinya Pusat Kegiatan Belajar Mandiri (PKBM) yang resmi dan terdaftar di Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), sehingga membantu program KBRI Tokyo dalam meluaskan akses pendidikan bagi warganegara Indonesia di Jepang,” ujarnya. 

Pengurus PPI memohon bantuan KBRI Tokyo untuk mengembangkan, menyebarkan informasi, dan memasarkan hasil tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) di Negeri Sakura itu. Yusli menyatakan KBRI akan membantu upaya PPI Nagoya itu.

Pada kesempatan itu ia  juga mengajak para mahasiswa untuk mempromosikan program pendidikan jarak jauh (PJJ) yang ditawarkan Sekolah Republik Indonesia Tokyo. “Kami juga mohon kepada ananda, para mahasiswa yang di sini untuk membantu para siswa Indonesia menyukseskan PJJ, khususnya untuk mata pelajaran yang tidak diperoleh dari Sekolah Umum Jepang. Antata lain pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Bahasa Indonesia,” ajaknya.

Sementara itu, Yuvi Shandy Amisadai, pada kesempatan tersebut menyosialisasikan pentingnya lapor diri dan meminta komitmen anggota PPI untuk mengisi formulir lapor diri melalui portal yang tersedia. Menurutmya, pengisian data diri itu menyangkut kepentingan dan hak bagi tiap warga negara, terutama jika membutuhkan bantuan saat terjadi bencana, atau untuk memastikan hak suara pada pemilu 2024.

Yuvi juga mendorong para pengurus PPI untuk lebih peka terhadap kondisi para anggotanya, terutama kondisi mental dalam situasi pandemi Covid-19. “Kami  mengajak PPI melakukan kolaborasi dalam tindakan pencegahan serta perlindungan dengan memastikan kesehatan mental sesama mahasiswa di lingkungannya,” ungkapnya. ***