13
Min, Jun
266 New Articles

Indonesia Sampaikan Catatan Penting untuk Konferensi Perubahan Iklim

Bonn Climate Change Conference (BCCC) 2021

Eropa
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta 4/6 -- Indonesia menyampaikan sejumlah pernyataan yang diharapkan menjadi perhatian semua negara untuk menyuksesan perundingan di Konferensi Perubahan Iklim (COP) 26 UNFCCC yang dijadwalkan berlangsung di Glasgow pada 1-12 November mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh delegasi Indonesia pada Bonn Climate Change Conference (BCCC) 2021 yang berlangsung di Bonn secara virtual sejak 31 Mei lalu hingga 17 Juni mendatang.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian semua pihak antara lain mendorong finalisasi pembahasan agenda Article 6 Paris Agreement. Lalu mendorong pernyataan common time frame NDC dalam siklus 10 tahun dengan review pada tahun ke-5, juga mendorong pertemuan itu agar menjadi kesempatan untuk menguraikan modalitas terkait common reporting table (CRT) untuk inventarisasi GRK dan common reporting format (CRF) untuk kemajuan dan dukungan NDC dalam agenda kerangka transparansi. 

Selanjutnya Indonesia juga menekankan agar komitmen negara maju dalam memobilisasi dana sebesar US$100 miliar per tahun sampai 2020 secara akuntabel, memadai, dan transparan, menjadi dua kali lipat pada 2025. Pernyataan lainnya, menekankan pentingnya elemen adaptasi yang harus diperlakukan secara seimbang dengan mitigasi dalam mengimplementasikan Perjanjian Paris dan mempercepat implementasi Koronivia Joint Work on Agriculture. 

"Isu-isu krusial yang akan dibahas pada BCCC kali ini antara lain penyelesaian Paris Rule Book, yakni pengaturan teknis Article 6 of the Paris Agreement (operasionalisasi pemenuhan sukarela NDC melalui mekanisme pasar dan non-pasar), transparency (kerangka pelaporan aksi dan supports di bawah Paris Agreement), common time frames for NDC, global stocktake, dan pendanaan untuk Adaptasi," ujar Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanthi, selaku National Focal Point to the UNFCCC Indonesia dalam keterangan persnya. 

BCCC atau dikenal dengan pertemuan SBSTA (Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice) dan SBI (Subsidiary Body for Implementation) pada tahun ini dinamai 2021 May-June Climate Change Conference. Pertemuan ini bersifat informal dan tidak ada pengambilan keputusan formal hingga negara-negara menghadiri pertemuan secara in-person kembali. Secara substansi, agenda pertemuan kali ini akan merefleksikan mandat yang harus dilaksanakan pada 2020 dan 2021 serta menyiapkan modalitas untuk perundingan COP 26 UNFCCC di Glasgow. 

May June Climate Conference 2021 dibuka secara resmi pada 31 Mei 2021 oleh Presiden COP 25 dan Presiden COP 26. Untuk mengatasi tantangan dan kendala pertemuan virtual, periode sesi telah diperpanjang dari biasanya dua minggu menjadi tiga minggu. ***