Bamsoet Mampu Mengubah Citra DPR dari Negatif Berangsur Positif

Ketua DPR Bambang Soesatyo KUMPARAN

ASATUNEWS.CO.ID — Dalam tentang waktu beberapa bulan saja citra DPR berhasil diubah Ketua DPR Bambang Soesatyo, dari negatif berangsur ke positif. Demikian hasil survei terbaru atas kinerja DPR RI yang dipublikasikan Rabu (23/5/2018).

Survei Charta Politika itu digelar pada 13-19 April dengan melibatkan 2.000 responden, yang sebarannya meliputi 34 provinsi dan 10 etnis dengan usia responden minimal 17 tahun atau sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan hak pilih. Dengan margin of error mencapai 2,19 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya,  Bamsoet yang menjabat sebagai ketua DPR sejak 15 Januari, terbukti mampu mengubah wajah parlemen. Bahkan, masyarakat lebih optimistis terhadap kinerja DPR.

“Sejak menggantikan posisi Setya Novanto pada 15 Januari lalu, Bamsoet terbukti membawa banyak perubahan di DPR. Berbeda saat masih di bawah komando Setya Novanto yang kerap dipandang negatif,” papar Yunarto.

Tercatat sebanyak 49,3 persen responden menyatakan optimistis dengan Bamsoet. Sementara mereka yang optimistis dengan kepemimpinan Setya Novanto hanya 17 persen. Sisanya 33,7 persen menjawab tidak tahu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Bamsoet berhasil mengubah wajah DPR dalam tempo kurang dari lima bulan.

Dihubungi terpisah, Bamsoet menganggap hasil survei tersebut sebagai kepercayaan masyarakat yang harus dijaga. Dirinya mengaku hanya ingin melakukan pekerjaan sebaik-baiknya. “Terutama mendorong lembaga yang dipimpinnya untuk jauh lebih keras dalam mendengar aspirasi masyarakat,” kata mantan Ketua Komisi III DPR ini.

Selain itu, politisi Partai Golkar ini menyebutkan dirinya juga ingin agar beban legislasi lebih banyak yang diselesaikan. Tujuannya, produktivitas kinerja DPR bisa meningkat dibanding sebelumnya. Tidak seperti tahun lalu di mana DPR hanya bisa menyelesaikan 4 RUU secara kumulatif terbuka dari target 49 RUU yang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2017.

Bamsoet juga mengakui, banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya kinerja legislasi tersebut. Di antaranya, kurang kuatnya komitmen salah satu pihak (DPR atau pemerintah) dalam menyelesaikan tahapan pembentukan UU yang telah direncanakan, lemahnya koordinasi antar-lembaga pembentuk UU, dan kurangnya pemahaman terhadap proses pembentukan UU.

“Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa kita menghadapi citra DPR yang buruk karena kasus yang dialami Pak Setnov. Yang bisa kita lakukan untuk membenahinya adalah dengan bekerja lebih giat lagi. Terutama pada persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat,” katanya.

Meskipun demikian, DPR masih harus berhadapan dengan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap lembaga tersebut. Survei yang sama menunjukkan, hanya 49,5 persen masyarakat yang percaya dengan DPR. Sebanyak 42,5 menyatakan tidak percaya dan 8 persen tidak tahu.

Tingkat kepercayaan itu masih lebih rendah dibanding Presiden (73,5 persen), Polri (54,5 persen), dan Mahkamah Agung (49,7 persen). Namun, DPR masih lebih baik dibanding Dewan Perwakilan Daerah (DPD), 42 persen, dan partai politik yang hanya 39 persen.

Diketahui, survei ini dilakukan secara tatap muka (face to face interview) dengan menggunakan kuesioner terstruktur (structured interview). Sampel responden dipilih secara acak (probablity sampling) dengan metode penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling).

Meskipun demikian, random sampling tersebut tetap memperhatikan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di setiap kabupaten.

JAWA POS

299 total views, 1 views today