Tingkatkan Pengawasan Karantina Komoditas

Roem Kono (NET)

Parlemen
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta, 26/1  - Wakil Ketua Komisi IV DPR Roem Kono menginginkan pengawasan karantina untuk ekspor komoditas perikanan lebih ditingkatkan lagi, sehingga dipastikan hanya produk, yang memang layak, dikirim ke luar negeri. "BKIPM (Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan) juga perlu meningkatkan pengawasan dan memastikan bahwa ikan-ikan yang diekspor itu aman dan sehat untuk diekspor," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (26/1/2019).

Menurut dia, bila semua yang diekspor dalam keadaan baik, maka ke depannya permintaan ekspor juga akan meningkat.

Politisi Partai Golkar itu juga memaparkan bahwa stasiun karantina adalah garda terdepan dalam melindungi sumber daya hayati asal Indonesia, baik dari kejahatan pencurian, perdagangan, maupun peredaran secara ilegal.

Guna memperkuat BKIPM, ia menuturkan Komisi IV DPR RI sedang melakukan Revisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, yang sedang dibahas bersama pemerintah.

Revisi tersebut, lanjutnya, akan menekankan pada kelembagaan dengan penyelenggaraan karantina diintregasikan dan dikoordinasikan dalam bentuk satu badan, sehingga terpadu, modern, kuat dan efektif.

Sebelumnya, Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jakarta I Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggagalkan rencana penyelundupan 315.000 benih lobster sepanjang 2018.

"Berbagai tindak penyelundupan benih lobster melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta masih marak terjadi. Selama periode Januari hingga Desember 2018, BKIPM Jakarta I telah berhasil menggagalkan sejumlah kasus penyelundupan benih lobster, dengan total 315 ribu benih lobster berhasil diselamatkan," kata Kepala BKIPM Jakarta I Habrin Yake.

Ia mengungkapkan berbagai modus pencurian benih lobster paling sering terjadi melalui Bandara Soetta dengan cara "hand carry" atau dibawa langsung dengan menggunakan koper.

Selain itu, ujar dia, modus dalam tindak penyelundupan tersebut juga ada yang ditemukan dengan jalur pengiriman kargo pesawat.

"Modusnya beragam, paling banyak dibawa langsung oleh si pelaku atau kurir. Ada juga diselundupkan melalui barang kiriman atau kargo," ucapnya.

Habrin menegaskan, BKIPM Jakarta I juga telah menggagalkan berbagai upaya penyelundupan hasil perikanan, seperti lobster bertelur sebanyak 243 ekor, kepiting dalam kondisi bertelur sebanyak 1.539 ekor, dan kepiting di bawah ukuran 200 gram.

Dalam upaya penggagalan, pihaknya juga dibantu oleh aparat dari instansi lain, seperti Bea Cukai, Kepolisian, dan keamanan bandara.

Ia berharap ke depan tidak ada lagi penangkapan dan penyelundupan baik itu benih lobster maupun komoditas perikanan lainnya agar pengelolaan perikanan nasional juga bisa lebih berkelanjutan. ***