Perubahan Itu Momok atau Kesempatan

Mulyono D Prawiro (NET)

Opini
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Akhir-akhir ini sudah mulai banyak para calon anggota legislatif dari berbagai partai politik yang ada, berusaha untuk berkampanye dengan cara memperkenalkan dirinya dengan memasang gambarnya di berbagai tempat strategis, seperti di pinggir-pinggir jalan raya atau di perempatan jalan yang dilewati banyak orang.
Melalui pesan singkatnya mereka menjanjikan, apabila mereka terpilih sebagai anggota legislatif, nantinya akan membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat.


Peristiwa semacam ini selalu muncul di saat-saat menjelang pemilihan anggota legislatif baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Meskipun banyak di antara mereka yang sudah dan pernah duduk sebagai anggota legislatif ingin juga menduduki jabatan itu untuk kesekian kalinya.

Kadang mereka tidak segan-segan pindah partai, dari partai politik yang satu ke partai politik yang lain, dengan harapan agar tetap eksis menjadi anggota legislatif di masa berikutnya.

Rasa malu pun sudah tidak ada lagi di dalam berpolitik, yang ada hanyalah ambisi untuk menduduki jabatan yang terhormat itu. Janji adanya perubahan selalu saja didengungkan, seolah-olah mereka mampu untuk itu, meskipun selama menduduki jabatan sebagai wakil rakyat di DPR/DPRD mereka tidak banyak berbuat untuk rakyat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terkena masalah dan akhirnya mengecewakan rakyat.

Ajakan untuk memunculkan perubahan itu memang baik, perubahan itu memang perlu dan harus, namun perubahan yang bagaimana itu yang perlu dikaji. Ada sebagian orang bila mendengar kata perubahan, dalam hatinya ada yang mengatakan bahwa ini adalah kesempatan untuk merubah nasib, keberuntungan, bahkan tidak jarang yang sengaja menginginkan adanya hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya, baik itu perubahan bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat luas.

Namun bagi sebagian orang, perubahan dianggap momok yang menakutkan, karena ada semacam ancaman baginya, apa lagi yang bersangkutan sedang pada posisi atau kedudukan yang sangat strategis.

Seorang guru besar dari Cornell University dan juga ketua Blanchard Training and Development, Inc., Amerika Serikat, Prof  Ken Blanchard dalam bukunya berjudul “Lead at a Higher Level” (Memimpin di Tingkat yang Lebih Tinggi) telah meramalkan adanya perubahan yang maha dasyat yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia.

Dia membagi perubahan menjadi tiga hal pokok. Pertama, perubahan pada tatanan masyarakat, baik cara pandang maupun cara berpikir masyarakat terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, ini antara lain disebabkan adanya perubahan lingkungan dan tata pemerintahan.

Penduduk yang secara geografis masih berada di pedesaan (rural) tetapi karena struktur pemerintahannya berubah, desa menjadi kota, maka penduduk rural tersebut dalam kecepatan yang tinggi telah berubah menjadi penduduk urban, sehingga cara perpikir, berpakaian dan gaya penampilannya pun ikut berubah.
Keadaan ini bukan hanya terjadi pada tingkatan nasional, tetapi hampir seluruh penjuru dunia mengalami keadaan yang sama.

Kedua, perubahan organisasi, perubahan ini biasanya disebabkan oleh adanya faktor internal dan eksternal, dalam hal ini diperlukan agen perubahan, baik oleh pihak luar yang membawa perspektif terhadap situasi perubahan organisasi yang bersangkutan, atau tim dari dalam yang menginginkan adanya perubahan, dan tidak jarang yang melakukan kombinasi dua-duanya perubahan tersebut, baik dari dalam organisasi itu sendiri maupun dari eksternal organisasi.

Hal ini kadang-kadang menimbulkan perbagai gejolak dan penolakan, baik terbuka maupun secara sembunyi-sembunyi.

Ketiga, Etika Kepemimpinan, kalau para pemimpin atau mereka yang saat ini memiliki posisi yang sudah sangat strategis, dengan adanya perubahan etika, kadang-kadang kesopan-santunan atau etika penghormatan kepada atasan hampir tidak terlihat lagi, sehingga terkesan adanya ambisi pribadi dan atau atas nama organisasi dan dorongan masyarakat untuk berusaha mendongkrak maupun menyaingi pimpinannya sudah bukan merupakan hal baru di dalam memperoleh keinginan dan ambisinya. Hormat kepada senior hampir-hampir tidak ada atau hilang.

Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini sungguh luar biasa, terutama adanya arus globalisasi yang spektakuler melanda hampir seluruh negeri, adanya tekanan pasar (global market) yang luar biasa, sehingga diperlukan manusia-manusia tangguh yang berkemampuan intrepeneur yang tinggi sehingga dapat menghadapi daya saing yang sudah sangat global tersebut. Saat ini dirasa masih langka pemimpin atau orang-orang yang bisa dijadikan panutan atau contoh yang baik bagi masyarakatnya.

Pertunjukan yang disajikan baik oleh media cetak maupun media televisi hampir seluruhnya mempertontonkan adanya perhelatan yang tidak memberikan contoh ataupun tauladan yang baik bagi masyarakat sebagai bangsa yang beradab.

Salah satu usaha untuk mengatasi masalah yang pelik seperti ini, Lynn Barendsen and Howard Gardner memberikan solusi antara lain diperlukan adanya perkuatan nilai etik, yaitu mengembalikan nilai-nilai luhur yang pernah dipunyai oleh bangsa ini.

Kalau di Indonesia perlunya ditanamkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dan penghormatan kepada para leluhur dan nenek moyang. Posisi pemimpin yang sentral dirasa masih perlu dalam mengatasi permasalahan yang pelik, sehingga ada satu panutan yang bisa dijadikan pedoman dalam berbangsa dan bernegara, jadi pemimpin yang sentral masih tetap penting.

Perpaduan atau kombinasi tujuan dan target yang benar sangat diperlukan oleh pemimpin yang mampu menyatukan perbedaan dan memperluas jangkauan (networking) di antara para pemimpin lainnya untuk mencapai tujuan yang tepat dan strategis.
Perilaku yang ditunjukan bukan hanya melalui pidato yang enak didengar tetapi diperlukan adanya tingkah laku dan perbuatan nyata yang bisa dijadikan contoh dan teladan setiap gerak-geriknya. Menciptakan suasana sejuk dan mampu membagi kewenangan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.

Seperti yang diuraikan oleh Stephen R Covey, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dan mampu mengambil keputusan yang berdasar pada perbedaan.

Di samping itu dia harus siap memimpin untuk melanjutkan pembangunan dan tidak menghabiskan waktunya untuk melempar tuduhan atas kesalahan masa lalu, dan yang paling penting adalah siap untuk mengakui kesulitan dalam mengambil keputusan yang mungkin tidak populer. Program masa lalu biarpun dianggap kurang menonjol dianggap sebagai langkah awal untuk melanjutkan program yang lebih baik ke depan. Program dan kegiatannya memberikan bukti nyata dan hasilnya dapat dirasakan oleh banyak orang dan rakyat ikut berpartisipasi dalam program pembangunan yang dijalakannya. ****

(Oleh: Dr Mulyono D Prawiro/Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)