Aktor Politik Berperilaku Kekanak-kanakan Harus Dihentikan

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (NET)

Opini
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

PANGGUNG politik yang akhir-akhir ini lebih mempertontonkan aktor politik dengan perilaku kekanak-kanakan harus dihentikan karena sama sekali tidak mendidik. Menuju puncak tahun politik 2019, sangat ideal jika politisi mau menunjukkan adab dan kedewasaan berpolitik serta fokus menanggapi dan mengolah aspirasi masyarakat, membangun optimisme sambil terus menyuarakan kritik yang objektif, proporsional didukung data yang akurat dan relevan.


Dalam beberapa bulan terakhir ini ruang publik dikotori dengan perilaku kekanak-kanakan sejumlah aktor politik. Saling ejek, saling hina hingga saling tuduh dan saling sindir. Persepsinya sungguh tidak elok, pun terkesan vulgar  karena sering menggunakan kata-kata yang dirasakan sangat kasar oleh orang kebanyakan.

Sungguh apa yang tampak di permukaan tak lebih dari perilaku kekanak-kanakan dan dengan begitu sama sekali tidak mendidik, juga tidak mencerahkan. Ada yang tak sungkan berbohong. Lainnya melempar tuduhan, tapi menolak dimintai keterangan. Ada juga yang lancang bicara tentang statistik ekonomi, tapi dengan data yang tidak relevan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, logika publik coba dirusak dengan memaksakan pemahaman yang tidak pada tempatnya. Misalnya ketika diskusi sampai pada tema utang luar negeri (ULN), yang dikedepankan hanya besaran volume ULN, sementara penggunaan atau manfaat ULN sama sekali tidak dikedepankan.  

Selain itu ada tendensi untuk memaksa publik tidak mengapresiasi fakta tentang progres serta makna filosofis dari pembangunan ragam infrastruktur di hampir semua pelosok Tanah Air, termasuk juga upaya teramat keras merealisasi politik satu harga untuk komoditas strategis tertentu seperti bahan bakar minyak (BBM).

Ada upaya atau dorongan kepada masyarakat untuk gagal paham bahwa merealisasi pembangunan infrastruktur pada hampir semua daerah di luar Jawa adalah tahapan terpenting dan sangat strategis dari agenda memperkokoh ikatan NKRI. Adapun realisasi politik satu harga, kerja peningkatan elektrifikasi hingga realisasi proyek Palapa Ring timur dan barat adalah upaya negara mewujudkan keadilan dan pemerataan kesempatan.

Manuver mem-blow up volume ULN yang berkelanjutan lebih bertujuan menyesatkan pemahaman sebagian masyarakat tentang pemanfaatan ULN.  Menggoreng isu tentang gelembung volume ULN juga lebih bertendensi untuk mengatakan kepada publik bahwa ULN itu tidak bermanfaat atau tidak bernilai tambah dalam konteks keseluruhan pembangunan nasional. Namun mereka yang menggoreng isu ULN itu tak pernah mampu menjelaskan untuk apa saja pemanfaatan ULN itu sendiri.

Pun sebaliknya, mereka tak pernah mampu mengungkap penyalahgunaan atau kebocoran ULN, kalaupun ada.  Jadi yang digaungkan hanya gelembung ULN untuk membuat gelisah banyak orang. Patut disyukuri bahwa tidak semua kalangan mau terperangkap dalam cara pikir dan cara pandang aktor-aktor politik yang berperilaku kekanak-kanakan itu.


Tantangan Publik


Perilaku kekanak-kanakan yang ditandai dengan kritik asal bunyi, saling hina, saling tuduh hingga saling ejek itu bertujuan mendegradasi elektabilitas lawan politik. Akan tetapi ketika semuanya dilakukan oleh aktor-aktor politik yang sejatinya tidak punya kompetensi pada isu-isu dimaksud, perilaku yang demikian sebenarnya menjurus pada tindakan bunuh diri politik. Sebab kritik asal bunyi dapat diasumsikan menganggap publik bodoh sehingga akan percaya begitu saja pada kritik yang ngawur itu. Namun ketika publik paham bahwa kritik itu salah alias asal bunyi, para aktor politik itu akan dinilai tidak kompeten.

Publik marah karena dianggap bodoh. Kemarahan publik akan dilampiaskan saat setiap orang menetapkan pilihan politiknya. Berpijak pada logika politik dan faktor-faktor penentu elektabilitas, tindakan bunuh diri politik sebenarnya cukup marak dilakukan sejumlah politisi sepanjang periode menuju penetapan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) hingga pengambilan nomor urut peserta Pilpres 2019. Bahkan ada sejumlah aktor yang berpotensi berhadapan dengan proses hukum, misalnya karena asal-asalan menuduh, menghina atau mencemarkan nama baik pihak lain.

Namun karena asumsi bahwa tensi boleh menghangat menuju tahun politik 2019, diberikan toleransi terhadap aktor-aktor politik yang berperilaku tidak terpuji itu. Dua kandidat capres-cawapres sudah ditetapkan berikut nomor urut masing-masing. Tim pemenangan tingkat nasional hingga daerah sudah dibentuk. Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun sudah menetapkan tanggal 23 September 2018 menjadi hari pertama dimulainya kampanye, yang diawali deklarasi kampanye damai.

Para aktor politik kedua kubu diharapkan mau mengaktualisasi tema kampanye damai itu. Jika konsisten dengan semangat itu dan mewujudkan pesta demokrasi yang menggembirakan, perilaku kekanak-kanakan hendaknya tidak lagi dipraktikkan.

Tim kampanye dari kedua kubu––umumnya beranggotakan politisi––patut menyadari bahwa publik menantang mereka untuk lebih mengedepankan program, solusi serta gagasan-gagasan baru yang lebih menjanjikan. Program, solusi maupun gagasan baru itu hendaknya realistis, mengacu pada fakta-fakta persoalan terkini. Harap dicamkan bahwa publik menolak jika program atau gagasan baru itu cenderung mengawang-awang.

 Dari program dan gagasan itu publik ingin optimisme mereka ditumbuhkan.

Dengan begitu publik meminta kedua kubu untuk lebih beradab dan dewasa dalam berpolitik. Sebagai kekuatan politik, kedua kubu harus fokus mendengar, menanggapi, dan mengolah aspirasi masyarakat. Dengan berpijak pada fakta-fakta persoalan mutakhir, kedua kubu pun harus berani menetapkan prioritas program masing-masing. Silakan memanfaatkan panggung kampanye untuk mengkritik lawan.

Tapi kritik harus objektif, proporsional didukung data yang akurat dan relevan. Seperti diketahui bersama, menuju Pilpres 2019, Indonesia masih menghadapi gejolak nilai tukar valuta yang berakibat pada depresiasi rupiah. Durasi pelemahan rupiah sulit ditetapkan karena bergantung pada mekanisme pasar yang dipengaruhi langkah-langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve. Selain itu perang dagang yang melibatkan dua raksasa ekonomi, AS versus China, juga sedikit banyak menghadirkan dampak negatif bagi Indonesia. Indonesia akan menghadapi dua masalah ini hingga tahun-tahun mendatang.

Artinya itulah persoalan nyata teranyar yang harus disikapi kedua kubu. Tentu saja masyarakat menunggu resep apa yang akan ditawarkan kedua kubu untuk merespons masalah-masalah tersebut. Untuk merumuskan strategi mengatasi masalah-masalah dimaksud, aktor-aktor politik di kedua kubu tidak boleh lagi berperilaku kekanak-kanakan. Perang pernyataan tidak lagi diperlukan karena aktor-aktor politik diminta berpikir keras mencari solusi.  (Bambang Soesatyo/Ketua DPR RI, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia)


Artikel ini sebelumnya dimuat di Koran Sindo dengan judul "Mulailah Bicara Program" pada Jumat 28 September 2018. https://nasional.sindonews.com/read/1341929/18/mulailah-bicara-program-1538096330/