21
Sen, Okt
107 New Articles

Eksponen Ormas Tri Karya Golkar Nilai Airlangga Gagal Kelola Partai Golkar

Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (DOK)

Partai Golkar
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Jakarta 12/9-- Para tokoh senior Partai Golkar yang tergabung dalam eksponen Ormas Tri Karya Golkar, terdiri dari SOKSI, Kosgoro 1957, dan MKGR, menyatakan prihatin atas situasi internal Partai Golkar yang mulai mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan kader Partai Golkar. 

Momentum menjelang Musyarawah Nasional untuk memilih Ketua Umum Golkar 2019-2024 seharusnya  memperkuat solidaritas internal kader Partai Golkar, bukan malah menciptakan kegaduhan baru yang mengganggu stabilitas politik nasional.

"Tri Karya sebagai pendiri Partai Golkar terpanggil menjadi moral force (kekuatan moral) mengembalikan marwah Partai Golkar yang dua tahun ini terbengkalai akibat kepemimpinan yang lemah. Permintaan Rapat Pleno, Mosi Tidak Percaya, hingga somasi yang dilayangkan oleh para pengurus DPP Partai Golkar, semuanya mentah dan tidak ada tanggapan sama sekali dari Ketua Umum," ujar Juru Bicara Eksponen Ormas Tri Karya, Fatahilah Ramli, di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Turut hadir para tokoh senior lainnya seperti Zainal Bintang dari MKGR, Lawrence Siburian dari SOKSI, dan Cyprus Anthonia Tatali dari Kosgoro 1957.

Tokoh senior MKGR Zainal Bintang menegaskan, eksponen Ormas Tri Karya Golkar menginginkan Partai Golkar bisa kembali kepada jati dirinya sebagai partai karya kekaryaan. Partai yang terbuka bagi siapa pun, khususnya milenial.

"Banyak yang menilai, termasuk anak cucu saya, bahwa Partai Golkar adalah partai jadul. Stigma ini harus diubah oleh kepemimpinan yang kuat, yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkarya. Partai Golkar punya standar kepemimpinan yang berpegang teguh kepada prinsip PDLT, yakni Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela," tutur Zainal Bintang.

Sementara itu, tokoh senior SOKSI Lawrence Siburian mengingatkan bahwa dalam Partai Golkar ada standar etik yang pernah ditorehkan Jusuf Kalla, yaitu saat perolehan suara Partai Golkar turun di masanya, beliau dengan sukarela mempercepat penyelenggaran Musyawarah Nasional. Hal ini sepatutnya ditiru oleh Airlangga Hartarto yang terbukti jauh lebih gagal menjaga kebesaran Partai Golkar dibanding masanya Jusuf Kalla.

"Dua tahun di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, Partai Golkar mengalami kegagalan. Mengingat tantangan Partai Golkar ke depan sangat besar, kita yang sudah senior-senior seyogyanya memberikan jalan bagi yang muda untuk berkiprah di Partai Golkar. Segera selenggarakan Munas agar ada reformasi besar-besaran di tubuh Partai Golkar," tandas Lawrence Siburian.

Sedangkan tokoh senior Kosgoro 1957 Cyprus Anthonia Tatali menilai, sosok Airlangga Hartarto bukan hanya tidak cakap menjalankan roda organisasi kepartaian, melainkan juga gagal mempererat persaudaraan sesama kader Partai Golkar. Terbukti dari tidak adanya rapat rutin maupun aktivitas kepartaian di DPP Partai Golkar, hingga penggunaan preman untuk menutup akses masuk ke kantor DPP Partai Golkar.

"Walaupun Airlangga Hartarto merupakan kader Kosgoro 1957, bukan berarti kami mendukung dengan kacamata kuda. Kami bukan pelacur intelektual, melainkan penjaga marwah agar Partai Golkar tidak tertelan roda sejarah. Jika di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto suara Partai Golkar di Pemilu 2019 kedodoran, apalagi nanti menghadapi Pilkada 2020. Partai Golkar membutuhkan perubahan sesegera mungkin, secepat mungkin," tandas Cyprus Anthonia Tatali.***