Ijazah Salah Satu Cawagub Diduga Aspal, Ini Sejumlah Kejanggalannya

Alumni STM Partambangan Palembang mengimbau kepada rekannya untuk tidak memberikan keterangan palsu.

ASATUNEWS.CO.ID — Dalam dua pekan terakhir,  salah satu calon wakil gubernur berinisial MY yang maju ke pilgub  sudah dilaporkan dua kali ke Bareskrim Mabes Polri di Jakarta, terkait dugaan ijazah aspal yang dimilikinya.

Pelapor pertama Ketua Ormas Putra Sriwijaya Sumatera Selatan (PS Sumsel), Mas Agus Rudi, yang mendatangi Bareskrim Mabes Polri dengan laporan Nomor 06/dpp/lsk.lh/v/18 tertanggal 23 Mei 2018.  Pelaporan kedua dilakukan dua alumni STM Pertambangan Palembang, juga ke Bareskrim Mabes Polri, yang mengaku tidak mengenal atau merasa satu kelas dengan MY, baik ketika kelas satu, dua, sampai tiga maupun saat lulus pada Desember 1977.

“Kami tidak pernah bertemu dengan MY, baik saat belajar, maupun ujian atau saat lulus dari STM Pertambangan Palembang Angkatan 1977,” jelas SA, salah satu alumni STM Pertambangan Palembang, di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Pernyataan pria berusia 60-an ini, diperkuat dengan penegasan rekannya, HMS, yang menyebutkan saat mereka kelas III STM Pertambangan, total murid satu kelas 20 orang. “Tapi, dalam Daftar Induk EBTA ada 21 murid, dan MY ditempatkan pada nomor yang ke-21. Padahal, namanya berawalan ‘M’ jadi seharusnya ditempatkan sesuai dengan urutan namanya,” jelas HMS.

Ini, menurut Syamsul Rizal, warga Palembang, yang bertahun-tahun mengumpulkan bukti bahwa ijazah MY adalah aspal, merupakan satu dari sekian banyak kejanggalan terkait dengan kelulusan MY di STM Pertambangan Palembang. Syamsul pula yang mendampingi kedua alumni STM Pertambangan Palembang, saat melaporkan dugaan ijazah aspal tersebut.

“Kejanggalan lainnya, terlihat dari tulisan tangan yang berbeda pada Daftar Nomor Induk dan Raport Siswa STM Pertambang, antara yang dimiliki MY dengan yang lainnya. Juga terlihat, ditulis di atas tip-ex,” jelas Syamsul, yang kini sudah pensiun dari salah satu perusahaan di Palembang.

Kejanggalan lain, juga pernah diungkap Mas Agus Rudi, saat melapor ke Bareskrim Mabes Polri. Nomor STTB VI Cm No. 1489 tahun 1977 pada STTB tersebut ditandatangani kepala sekolah, tapi tidak tercantum nomor NIP, nomor induk siswa.

Bahkan nilai evaluasi belajar tahap akhir tahun 1977 dengan nomor induk di STTB tersebut tidak sama, serta tidak ada nilai STTB atas nama MY sementara 20 siswa lain tercantum. “Kalau dicermati dengan teliti masih banyak lagi kejanggalan di ijazah tersebut,” kata Mas Agus.

Sementara itu, dalam surat pernyataan yang ditandatangani dan bermeterai cukup, HMS menegaskan dirinya adalah siswa STM Pertambangan Palembang dari tahu 1975 sampai 1977. “Tapi, semasa saya menjadi siswa STM Pertambangan Palembang, saya tidak pernah melihat maupun mengenal MY sebagai siswa STM Pertambangan Palembang,” kata HMS.

Tak hanya di kelas, HMS juga tidak pernah melihat MY saat melakukan praktek kerja di lapangan. “Baik di PT TABA Muara Enim, PT Stavac Indonesia, maupun PT Timah Bangka,” jelasnya.

Hal yang sama juga dikemukakan SA. Lalu bagaimana bisa MY memperoleh ijazah yang secara sepintas terlihat sama, baik dengan ijazah HMS maupun SA.

“Lembar ijazah yang dipakai untuk ijazah aspal milik MY merupakan kelebihan lembar ijazah yang memang disiapkan untuk cadangan jika terjadi kesalahan tulis, dan seharusnya dimusnahkan ketika tidak lagi digunakan,” jelas Syamsul Rizal. Makanya, ketika dilakukan uji forensik, kepolisian menyatakan ijazah MY asli.

Namun demikian, menurut Syamsul, ada kejanggalan lain dari ijazah tersebut yakni foto MY berukuran 4×6 sementara yang lainnya berukuran 3×4. Satu lagi, kata Syamsul, “Foto pada daftar induk siswa milik MY, sama persis dengan yang di ijazah. Padahal yang seharusnya, tertempel lebih muda karena difoto ketika akan masuk ke STM Pertambangan Palembang atau saat lulus SMP,” tuturnya.

Syamsul yang tergerak hatinya karena menyaksikan pembohongan publik bertahun-tahun itu, berjanji akan mengungkap lagi lebih banyak kejanggalan-kejanggalan, untuk meyakinkan berbagai pihak bahwa MY menggunakan ijazah palsu ketika maju sebagai pejabat publik, baik sebelumnya maupun saat ini di Pilgub Sumsel. “Bahkan, saya siap menjadi saksi di bawah sumpah di pengadilan,” jelasnya. (**)

457 total views, 1 views today