SOSOK

“Geger Genjik Udan Kirik” dalam Goresan Jenderal Polisi yang ‘Nyeniman’

Chrysnanda Dwi Laksana-CHRYSANDA.COM

Jakarta 12/7 (Asatunews.co.id) — Dalam kebudayaan Jawa,”Geger Genjik Udan Kirik” sebuah ungkapan untuk menggambarkan situasi kacau balau yang teramat dahsyat di sebuah negeri. Ketika ungkapan ini dijadikan sebuah tema pameran tunggal lukisan acrylic oleh Chrysnanda Dwi Laksana (CDL), seorang jenderal polisi yang ‘nyeniman’ tentu ada maksud, atau setidaknya ingin menggambarkan kegalauan seorang insan Bhayangkara atas situasi yang saat ini terjadi, lewat penuangan karya lukisan.

Karena ini sebuah karya seni lukis, tentu saja tak bakalan menimbulkan kegaduhan. Kecuali, rasa penasaran dari penikmat lukisan atas goresan seorang CDL yang garis-garis kuat torehan kuas, yang sepintas memang menggambarkan situasi rumit. Namun, di balik itu — dari seluruh lukisan CDL — ada simbol-simbol dan goresan tulisan kata-kata yang boleh jadi merupakan ‘mantra’.

“Saya memang seorang penulis huruf halus, saking halusnya malah menjadi kelihatan. Jika ditanya, apa yang tertulis di kanvas, saya malah bingung sendiri,” kata CDL, saat membuka pameran di Gedung Balai Budaya Menteng, Jalan Gereja Theresia, Jakarta (11/7/2018) malam.

CDL tampak sumringah, karena karya lukisnya yang sudah dipersiapkan untuk dipamerkan sejak Januari, lalu kemudian mundur terus sampai akhirnya berlangsung pertengahan Juli 2018, memperoleh apresiasi dari banyak kalangan. Tak hanya kalangan seniman saja, tapi juga rekan-rekan CDL di lingkaran profesi kepolisian. Semalam, misalnya hadir Wakapolda Metro Jaya) Brigjen Pol Purwadi, Direktur Bimmas PMJ Kombes Sambodo, Kombes Yaya Ahmudiarto, Kasi SIM Ditlantas PMJ Komisaris Fachri Siregar, dan beberapa lainnya.

Pembukaan berlangsung sederhana meriah, dengan menyajikan nuansa budaya Jawa dan panganan keseharian masyarakat Jawa. Yakni, melalui penampilan panggung dari kelompok Kampret Nglaras Irama (KNI) Polda Metro Jaya. Sesekali, penikmat karya lukis CDL menikmati ‘jajanan pasar’.

Sejumlah komentar pun tersirat, misalnya dari Syahnugra Ismail seorang pelukis assembling IKJ, yang semalam malah menjadi pembuka acara dan berhasil ‘menjebak’ CDL untuk bisa tampil ke panggung. “Romo ini (panggilan CDL di kalangan seniman) seorang yang unik dan langka. Seorang polisi, bergelar doktor, tapi juga hobinya melukis,” kilah Syahnugra, penanggungjawab harian Gedung Balai Budaya Menteng.

Jadi, tambahnya, CDL ini sosok yang lengkap. Ada tiga kepribadian yang menyatu dalam satu sosok. “Polisi itu artinya hukum, doktor berarti ilmuwan, sedangkan pelukis mewakili kemerdekaan. Benar-benar langka,” sebuh perupa kelahiran 1953 ini.

CDL memamerkan sekitar 50 lukisan kontemporer. Jenderal berbintang satu kelahiran Magelang 1967 ini melukis di Sanggar Lukis Sungging Purbangkoro Magelang 1981-1984. CDL juga pendiri Sanggar Karisma (Kartun Lukis Magelang), yang meraih sejumlah penghargaan di bidang seni lukis. Di antaranya “dari panitia Lomba Seni Lukis Polri 2012. Sebelum pameran tunggal ini, CDL yang sehari-hari adalah Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, ambil bagian dari pameran “Standing with the Master” di JCC, pada Januari 2018 dan “Jakarta Jakarta” di Balai Budaya, Februari 2018.

“Pameran tunggal ini persiapannya mepet, dan tidak terasa waktu berjalan cepat dari Januari hingga Juli ini. Ini bisa terlaksana berkat dukungan semua pihak,” kata CDL, yang membuka pameran dengan menorehkan tandatangan. (**)

207 total views, 3 views today

Popular

To Top